Minggu, 08 November 2015

BUKU KOLABORASI KETIGA : TREASURING WOMANHOOD 2016



 PRAISE THE LORD, buku ketiga saya terbit :)



Renungan harian berdasarkan kalender liturgi Katolik hadir untuk menemani & membawa kita akan pengenalan akan Allah yang begitu mencintai kita. Dan betapa indahnya hidup di dalam Tuhan yang menciptakan kita begitu berharga dengan panggilan keperempuanan kita.

�� Buku renungan harian TREASURING WOMANHOOD 2016. Ditulis oleh 16 wanita dari berbagai kalangan(presenter TV, pembicara,psikolog, selibat, biarawati,guru, pengusaha dll) Pengganti biaya cetak Rp. 75.000,- (belum termasuk ongkir).
Kode buku : DV1-002

BUKU KOLABORASI KEDUA : RANSEL BERWARNA HITAM

Puji Tuhan, BUKU KOLABORASI KEDUA-ku terbit  : RANSEL BERWARNA HITAM
Penerbit : PENA LINGKARANTARNUSA

Ransel Berwarna Hitam berisi 21 Cerpen Anak Karya Guru.
Cerpenku di sini berjudul : Cinta Mama
Price 45.000,-

BUKU KOLABORASI PERTAMA : TREASURING WOMANHOOD 2015

TREASURING WOMANHOOD 2015
BUKU RENUNGAN HARIAN KATOLIK KHUSUS PEREMPUAN UNTUK TAHUN 2015
Berdasarkan Kalender Liturgi Katolik, ditulis oleh 13 perempuan dari berbagai latar belakang (presenter TV, biarawati, selibat awam, ibu rumah tangga,guru, karyawan dll).

Penerbit : FLAMMA PUBLISHING
s o l d    o u t ... :)

Rabu, 09 September 2015

BUKU SEXY HOLY

SEXY & HOLY, Penulis Riko Ariefano & Lia. B. Ariefano
Bacaan Rohani yang  berisi pengalaman mencintai, dicintai, dalam berelasi dengan lawan jenis secara sehat. Buku ini dapat menambah pengalaman dalam memantapkan diri pada pilihan-pilihan hidup. Buku ini layak untuk dimiliki, very recomended!!!  Harga Rp. 54.000,-  WA: 08156094541

MEMBERI PERTOLONGAN

Hujan turun rintik-rintik, aku mengenggam payungku,keluar menembus udara dingin malam setelah seharian bergulat dengan pekerjaan pindahan kantor yang sungguh melelahkan. Kulangkahkan kakiku dengan cepat, karena sudah terbayang wajah mungil anakku yang menunggu di rumah.

Tiba-tiba langkah kakiku terhenti. Ada sesosok pria yang menghentikan langkahku.
"Maaf mengganggu sebentar," katanya dengan sopan,namun tidak dapat menghentikan seraut wajah yang dipenuhi keraguan. Pria berusia 20 tahunan itu melepaskan helmnya. dan mulai berbicara, "Maaf mbak, tadi saya dari rumah teman, saya mau nagih hutang. Dia punya hutang 100rb sama saya. Saya sudah tunggu dari tadi tapi teman saya tidak datang juga. Uang saya sudah habis. Saya harus pulang rumah saya jauh.Bisakah saya meminta barang uang sedikit, seiklasnya mbak. Bensin saya habis," katanya terbata-bata sambil meunjuk motor yang diparkir tidak jauh dari tempat kita berdiri.

Aku mengamati orang yang ada di hadapanku. Tuhan, apakah dia orang baik-baik? Apakah dia benar-benar membutuhkan pertolonganku? tanyaku dalam hati. Aku membuka mulutku,"Kerja di mana Mas?" "Saya bekerja sebagai cleaning service" jawabnya singkat. Dengan cepat aku membuka dompet yang kusimpan dalam tasku. "Kuambil satu lembar uang 5000an dan satu lembar uang 1000an. "Cukup untuk 1 liter bensin. Cukup kan sampai ke rumah? tanyaku sambil menyodorkan uang tersebut kepadanya. Dia langsung menerima uang tersebut. "Alhamdullilah, makasih banyak mbak," jawabnya penuh ucapan terimakasih,sambil menempelkan uang tersebut di jidatnya. Dia menatapku dalam-dalam. "Hati-hati mbak," tambahnya. Aku hanya tersenyum menjawab ucapan terimakasihnya. Aku cepat-cepat membalikkan badan meneruskan langkahku. Aku takut, dia bukan orang baik-baik yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Aku sudah berada dalam mobil angkutan. Aku membuka tasku untuk melihat apakah dompetku aman-aman saja berada di sana. Aku menemukannya, berarti aman. Masih terbayang dalam benakku kejadian barusan. Wajahnya penuh ucapan syukur, padahal dia hanya menerima 6000 rupiah dariku. Aku pun ikut terharu. Syukurlah kalau pertolongan kecilku benar-benar dapat membantunya. Ada perasaan senang yang diam-diam menyusup memasuki hatiku. Menghibur diriku yang sedang gundah gulana sedari pagi tadi. Masalah dalam kehidupanku yang membuat aku merasa menjadi orang yang tidak mengucap syukur hari ini. Tapi Tuhan memperlihatkan kasihNya dengan caraNya tersendiri. Terimakasih Tuhan.... Engkau menghiburku dan mengingatkanku dengan berbagai macam caraMu ....

Kamis, 23 April 2015

RESENSI NOVEL ROMO RAHADI penulis Y. Wastu Wijaya nama asli YB. Mangunwijaya

RESENSI NOVEL ROMO RAHADI penulis Y. Wastu Wijaya nama asli YB. Mangunwijaya/ Romo Mangun (Alm)


Judul : Romo Rahadi
Pengarang : YB Mangunwijaya
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun terbit :1981
Jumlah Halaman: 369 halaman
Tokoh Utama : Romo Rahadi, Hildegard, Rosi, Kak Trees dan Mas Swan :Rika, Benno, Wimbo, Santi (Anak-anak Kak Trees dan Mas Swan)
 

Hari ini beres baca Novel Romo Rahadi, dalam waktu empat hari beres baca novel setebal 369 halaman dan Thanks God, finally saya menemukan buku ini, Sejak Maret 2015 saya selesai membaca Novel Burung-Burung Manyar dengan penulis yang sama saya langsung jatuh cinta dengan tulisan-tulisan dari Romo Mangun. Hampir sebulan saya mengobrak-abrik internet untuk membeli buku itu secara online, namun saya tak menemukannya lagi karena sudah buku lama. Secara tak sengaja (sebenarnya kadang intuisi sudah menuntun :)) saya mendaftarkan diri menjadi anggota perpustakaan sekolah tempat saya bekerja, Dan wuihhhhhh finally  I found it. Sudah lama saya tak merasa begitu excited membaca buku novel dan ingin segera meghabiskannya

SINOPSIS
Novel ini berkisah tentang Romo Rahadi seorang iman Katolik yang pernah belajar di German dan diminta oleh Pastor Provinsial untuk merenungkan kembali jalan panggilannya selama 3 bulan ke daerah  Papua. Mengapa daerah yang dipilih Papua karena dia mempunyai ikatan yang baik dengan Kak Trees kakak kandungnya yang kedua.

Di perjalanan menuju Papua dalam pesawat Dakota dia bertemu dengan Hildegard teman dekat saat dia menuntut ilmu di Jerman. Di masa lalu perempuan ini banyak curhat padanya tentang kehidupan pribadinya, cantik, menarik, berbadan seksi dan cukup agresif menunjukkan harapannya pada Romo Rahadi. Namun Romo tetap setia dengan rahmat panggilannya.

Sesampainya di Papua Romo Rahadi bertemu dengan Kak Trees kakak kandungnya dan keponakannya Rika, Benno, Wimbo, Santi. Keponakannya yang pertama Rika pernah mengetahui sekelumit kisah cinta pamannya di masa lalu dan mulai mengodanya saat pamannya sampai di rumah dan bertemu kembali dengan bekas kekasihnya dr. Rosi yang sekarang sudah menjanda suaminya meninggal seminggu setelah menikah dalam suatu kecelakaan. dr. Rosi tin ggal bersama di rumah Kak Trees kakaknya karena dia sedang dalam penyembuhan sakit hepatitis. 

Rosi berambut panjang dikepang dua meskipun badannya menjadi kurus karena sakit namun kecantikannya tetap bersinar. Kecantikannya ini yang tetap terlihat menawan hati Romo Rahadi saat mereka sudah sekian lama tak bertemu dan akhirnya mereka dipertemukan diteras rumah belakang Kak Trees. Pertemuan ini melerai kenangan demi kenangan mereka berdua keindahan Pantai Enarotali jadi saksi pertemuan dua hati yang kembali saling mendamba namun keadaan Romo Rahadi yang sudah mengikat janji suci di depan altar kudus untuk hidup membujang selamanya menjadi dilema terbesarnya. Hati kecilnya memanggil akan cinta sejatinya, akan kebutuhan dasarnya, akan kerinduannya, akan panggilan hati untuk membahagiakan orang yang dicintainya.

Hildegard yang tergabung dalam misi kemanusiaan di Papua meninggal secara mengenaskan setelah ditangkap oleh warga setempat yang tengah pesta Orgi. dr. Rosi ikut memandikan mayat Hildegard dan ikut bersedih akan meninggalnya teman barunya yang dikenalkan oleh Romo Rahadi setelah mereka selesai Misa di hari Minggu di depan katedral. Di akhir surat wasiatnya sebelum meninggal Hildegard menyampaikan salamnya untuk ibunya, untuk semua orang-orang yang dekat di hatinya. Saat upacara penguburan  Romo Rahadi yang bertugas untuk membacakan surat itu tidak membacakan nama dirinya sebagai orang yang terdekat di hati Hildegard

 


 

Selasa, 25 November 2014

CERPEN : JUBAH PUTIH



Sinar matahari terasa hangat menerpa kulitnya. Patricia berjalan sambil menggandeng Daniel, anak semata wayangnya memasuki gereja St. Gabriel. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 08.55 wib. Lima menit lagi misa kedua di hari Minggu yang cerah akan segera dimulai.


Syukurlah masih ada tempat yang tersisa di bangku barisan ketiga dari depan. Daniel sudah berpesan sejak minggu lalu. Dia ingin menempati tempat duduk di barisan depan karena ingin melihat secara jelas pastur yang akan memimpin misa.

Pukul 09.00 tepat lagu “Hai Mahluk Semua” dari Puji Syukur menggema dengan indahnya dinyanyikan oleh paduan suara OMK. Pastur Damian naik ke altar lalu membungkuk mencium altar dengan hikmat. Menyaksikan ritual itu Daniel langsung teriak “Wow, cool man!” Cepat-cepat Patricia mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya menegur Daniel agar tak berisik sehingga dapat menganggu umat yang lain.

Pastur Damian kemudian menyapa seluruh umat dengan ucapan selamat pagi. Daniel dengan lantang menjawabnya dengan berteriak ”Selamat Pagi, Pastur!” Patricia spontan melotot pada anaknya. Seorang ibu setengah baya yang duduk di samping Daniel tersenyum maklum melihat ulah Daniel. “Sssttt, jangan terlalu ribut Daniel nanti umat lain terganggu!” bisik Patricia cepat ke telinga anaknya yang baru berumur delapan tahun. “Nggak apa-apa dong, Ma. Betul kan Pasturnya ngucapin salam, ya aku balas salamnya,” jawabnya sambil nyengir.

Selama Pastur Damian menyampaikan kotbah, mata bulatnya menatap wajah pemuka agama itu tanpa berkedip. Selesai lagu penutup Patricia masih menyampaikan doa pribadi sebagai ucapan syukur setelah mengikuti perayaan ekaristi. Namun tangan mungil Daniel sudah menarik-narik lengannya meminta dirinya untuk cepat-cepat keluar dari gereja. “Ayo, Mam, doanya jangan lama-lama nanti Pasturnya keburu pergi,” katanya cepat. Patricia menurut cepat-cepat dia berdiri dari duduknya lalu mengambil air suci pada pilar putih di pintu masuk dan segera mengejar Daniel yang sudah lebih dulu sampai di hadapan Pastur Damian. Wajah Daniel terlihat bersinar cerah menatap wajah Pastur Damian dari dekat.

“Mam, aku boleh pegang roknya pastur nggak?” tanya Daniel ragu-ragu berbisik ke telinga wanita berambut sebatas telinga itu. “Ini bukan rok Daniel, ini jubah,” jelas Patricia sambil tersenyum geli menahan tawa. Pastur Damian langsung menarik lengan Daniel dan menempatkannya di bagian samping jubahnya. Dengan takut-takut Daniel mengelus jubah putih itu. “Bagus ya, Ma,” teriaknya polos. Patricia mengangguk sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian Daniel sudah berani memegang dengan kencang jubah itu dan tanpa ragu-ragu didekatkan wajahnya pada jubah itu. Sampai seluruh wajahnya terbenam ke dalam jubah putih itu. “Daniel jangan, nanti jubahnya kotor!” cegah Patricia setengah berteriak. “Tak mengapa, Bu,” potong Pastur Damian dengan sabar sambil tersenyum maklum.


Satu menit lamanya Daniel menenggelamkan wajahnya di jubah polos itu. Perlahan-lahan bocah itu mengangkat wajahnya, ”Mam, kalau sudah besar nanti aku mau jadi Pastur, ya!” teriaknya bersemangat diiringi dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya. Mendadak mata Patricia berkaca-kaca mendengar keinginan Daniel yang tak pernah diduga-duganya. “Mudah-mudahan keinginanmu didengar oleh-Nya, Nak,” jawab Patricia sambil mengelus kepala anaknya. 

 

cerpen ini sudah dimuat di Majalah Gandawarta 2014